Asosiasi Ahli Forensik Indonesia (AAFI) Cabang Pasaman Barat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di bidang Forensik Odontologi sebagai persiapan menghadapi potensi bencana alam dan kasus massal. Forensik Odontologi, atau ilmu kedokteran gigi forensik, adalah metode identifikasi korban yang sangat diandalkan, terutama ketika jenazah tidak dapat dikenali secara visual atau rusak parah akibat kebakaran, kecelakaan, atau bencana alam. Inisiatif ini melibatkan pelatihan bagi dokter gigi lokal, penyidik, dan personel DVI (Disaster Victim Identification) untuk memaksimalkan penggunaan bukti gigi dalam proses identifikasi.
Program pelatihan yang diselenggarakan oleh AAFI Pasaman Barat menekankan teknik-teknik standar dalam pengumpulan dan analisis data gigi. Peserta dilatih cara membuat peta gigi (odontogram) postmortem (data setelah kematian) secara sistematis dari jenazah yang ditemukan. Keahlian ini mencakup identifikasi karakteristik gigi, restorasi (tambalan), gigi palsu, dan riwayat perawatan gigi lainnya. Penekanan diberikan pada pentingnya mencocokkan data postmortem dengan data antemortem (data sebelum kematian) yang diperoleh dari rekam medis gigi korban di klinik atau puskesmas. Akurasi dalam pencocokan data ini menjadi kunci utama untuk memberikan kepastian identitas.
Kepala AAFI Pasaman Barat menyatakan bahwa kemampuan forensik digital yang mumpuni bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk memberantas kejahatan di era modern. Dengan kemampuan baru ini, aparat penegak hukum di Pasaman Barat diharapkan mampu mengungkap identitas anonim pelaku kejahatan siber dan menghubungkan tindakan ilegal di dunia maya dengan pertanggungjawaban di dunia nyata. Kualitas bukti digital yang dihasilkan dari proses forensik yang terstandar ini akan memperkuat berkas perkara, memastikan tuntutan hukum yang lebih solid di persidangan.
Melalui peningkatan kapasitas Forensik Odontologi ini, AAFI Pasaman Barat berkomitmen untuk memperkuat respons DVI di wilayahnya. Pemanfaatan ilmu kedokteran gigi forensik yang terstruktur memastikan bahwa proses identifikasi korban bencana dilakukan dengan metodologi ilmiah tertinggi. Hal ini tidak hanya memulihkan hak-hak korban untuk diidentifikasi secara layak, tetapi juga membantu pihak berwenang dalam menyelesaikan masalah hukum dan administrasi yang timbul pascabencana dengan cepat dan akurat.